Dokter gigi yang tertarik menulis

Monday, 23 April 2018

Sariawan : penyebab dan penanganan

SARIAWAN, APTHOUS ULCER, APTHOUS STOMATITIS

Sariawan sering disebut dengan aphtous ulcer, aphtous stomatitis, cancre sores atau mouth ulcer. Tanda khas sariwan berbentuk cekung, sariawan, tidak memiliki penampakan bintil - bintil, berbentuk bulat atau oval, pinggiran sariawan harus berwarna merah (ciri adanya keradangan), warna dasar luka harus putih kekuningan. Berdasarkan ukurannya sariawan atau ulser (luka) dapat dibagi menjadi 3 yaitu minor, mayor dan herpetiformis 

  • Minor  yaitu ulser (luka) kecil ukuran < 4 mm sering terdapat pada mukosa bergerak, sembuh dalam waktu 14 hari dan tidak menimbulkan jaringan parut.
  • Mayor yaitu ulser (luka) besar mungkin > 1 cm terjadi pada daerah manapun termasuk dorsum lidah dan palatum keras, sembuh dalam 1-3 minggu dengan membentuk jaringan parut.
  • Herpetiformis yaitu beberapa ulser (luka) kecil yang bergabung membentuk ulser - ulser yang tidak teratur.


Sariawan umumnya dapat pulih sendiri (self limited disease) dalam waktu 1 - 2 minggu. Sariawan tidak lagi wajar apabila tidak berangsur pulih setelah 4 minggu. Tetapi kalau ada iritasi disekitar sariawan yang diketahui misalnya karena gingsul, tergigit dan pemakaian kawat gigi maka sariawan atau ulser lebih dari 4 minggu masih wajar.

Sariawan baru patut dicurigai ketika terjadi terus - menerus tetapi tidak diketahui faktor penyebabnya, apalagi jika diikuti dengan pinggiran sariawan yang mengeras. Selain itu sariawan atau ulser yang disertai demam atau gangguan pada kulit perlu diwaspadai sebagai tanda penyakit kanker mulut dan herpes.

Penegakan diagnosis sariawan dapat ditetapkan berdasarkan pemeriksaan fisik pasien terutama pemeriksaan ukuran sariawan dan peninjauan kesehatan pasien.

Etiologi
Penyebab sariawan tidak jelas diketahui diduga karena adanya perubahan sistem immun (kekebalan) yang mudah dilihat tetapi tidak terbukti adanya penyait autoimmun atau reaksi immunologi klasik.
Sariawan dapat terjadi karena berbagai faktor predisposisi diantaranya :
  • Kekurangan haematinik (zat besi, folat atau vitamin B12)
  • Penyakit Crohn, penyakit celiac, arthritis reaktif, sistem imun yang lemah (HIV, prnyakit lupus), penyakit bechcet dan infeksi virus (penyakit kaki, tangan dan mulut)
  • Cedera atau kerusakan pada lapisan dalam mulut. Hal ini dapat terjadi akibat trauma antara lain bibir tergigit secara tidak sengaja, memakai kawat gigi, mengunyah makanan yang keras, trauma akibat menggosok gigi
  • Efek samping obat atau metode pengobatan seperti obat antiinflamasi non steroid (NSAID), kemoterapi dan radioterapi
  • Perubahan hormon biasanya dialami wanita (hubungan dengan tahap luteal menstruasi)
  • Alergi makanan dan juga karena mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu seperti makanan yang pedas  dan kopi
  • Menggunakan pasta gigi yang mengandung natrium lauret sulfat
  • Kondisi psikologi seperti gelisah atau stress
Sariawan umumnya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Penanganan secara mandiri dapat dilakukan untuk mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami seperti :
  • Minum menggunakan sedotan untuk mengurangi rasa sakit
  • menggunakan pasta gigi yang tidak mengandung bahan - bahan yang memicu iritasi seperti sodium laurel sulfat serta menggunakan sikat gigi yang lembut untuk menggosok gigi
  • menghindari semua yang menjadi faktor pencetus yang dapat memperparah sariawan
  • mengkonsumsi makanan yang lembut dan menghindari makanan yang keras, pedas, asam, asin atau minuman panas hingga sariawan sembuh
  • Menggunakan obat aloclair untuk mengurangi rasa sakit akibat sariawan dan mencegah sariawan semakin parah
Jika rasa sakit tidak dapat tertangani dengan penanganan mandiri atau ulser bertambah banyak / besar maka dapat dikonsultasikan ke dokter. Dokter dapat menganjurkan pemberian obat - obatan untuk merawat faktor predisposisi antara lain : larutan kumur klorheksidin 0,2 % atau kortikosteroid topikal (hidrokortison hemisuksinat berbentuk gel 2,5 mg atau triamsinolon asetonide 0,1 % dalam orabase) atau larutan kumur tetrasiklin. Jarang digunakan steroid topikal yang lebih kuat misalnya betametason



Monday, 2 April 2018

Hand, Foot & Mouth Disease (HFMD) / Flu Singapura : Penyebab, Gejala dan Penanganan


PENYAKIT KAKI, TANGAN & MULUT (KTM)
FLU SINGAPURA
HAND, FOOT & MOUTH DISEASE (HFMD)

Penyakit Kaki, Tangan & Mulut (KTM) / Hand, Foot & Mouth Disease (HFMD) adalah suatu demam mirip flu disertai ulkus (luka) di mulut dan papula (bintil atau lentingan) di telapak tangan dan telapak kaki biasanya bersifat swasirna (bisa sembuh sendiri). Penyakit ini terutama menyerang balita dan anak - anak dibawah usia 10 tahun namun juga dilaporkan terjadi pada orang dewasa.

Penyakit ini lebih dikenal dengan nama flu Singapura. Mengapa penyakit ini dinamakan atau disebut flu Singapura karena penyakit ini pernah merebak disana, tepatnya belasan tahun silam atau pada tahun 2000.



Gejala / Tanda Klinis :
  • Demam selama 2 -3 hari
  • Anoreksia (gangguan makan)
  • Malaise (kondisi umum yang lemas, merasa kurang fit)
  • Sakit pada abdomen ( bagian antara dibawah dada hingga bagian atas paha)
  • Ulcer (luka) rongga mulut mirip stomatitis herpetiformis (sariawan) tetapi mengenai mukosa labial ( mukosa bibir bagian dalam rongga mulut) dan bukal (pipi bagian dalam rongga mulut) tidak ada gingivitis (keradangan pada gusi). Dalam beberapa hari ditemukan terutama pada telapak tangan dan kaki
Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) / Penyakit Kaki Tangan dan Mulut (KTM) diawali dengan demam, nyeri tenggorokan / menelan, nafsu makan yang menurun dan nyeri atau tidak enak badan. Setelah demam 1 - 2 hari timbul bintik - bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal dibagian belakang langit - langit mulut) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian 1 - 2 hari timbul juga ruam - ruam dikulit dan bintik - bintik merah di telapak tangan dan kaki. Meskipun pada HFMD terutama melibatkan rongga mulut, telapak tangan dan kaki namun ruam dapat juga timbul di tungkai, lengan, bokong dan kulit sekitar kemaluan. 

Orang dewasa dan orang dengan sistem kekebalan tubuh baik mungkin saja terinfeksi virus HFMD namun tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Kelompok ini bukanlah kelompok penderita namun potensial sebagai pembawa (carrier) virus HFMD dan menyebarkan virus ini.

Pengobatan :
Pada kondisi penderita dengan kekebalan dan kondisi tubuh cukup baik, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus. Peningkatan kekebalan tubuh penderita dilakukan dengan pemberian konsumsi makanan & cairan dalam jumlah banyak dan dengan kualitas gizi yang tinggi serta diberikan tambahan vitamin dan mineral jika diperlukan. Jika didapati terjadinya gejala super infeksi akibat bakteri diperlukan antibiotika.

Keparahan :
Untuk pasien dengan kondisi tubuh yang baik, penyakit ini akan menghilang dengan sendirinya selama 7 - 10 hari sejak gejala timbul. Namun komplikasi yang berbahaya juga dilaporkan meliputi miokarditis, pneumonia, meningitis, ensefalitis hingga kematian. Infeksi pada kehamilan trimester pertama (bulan ke 1-3) dapat menyebabkan keguguran spontan atau pertumbuhan janin yang tidak normal.

Edukasi :
  • Virus masih dapat berada di dalam tinja penderita hingga 1 bulan
  • Isolasi pasien sebenarnya tidak diperlukan, namun perlu istirahat untuk pemulihan dan pencegahan penularan lebih luas
  • Selalu mencuci tangan dengan benar untuk mengurangi resiko penularan
  • Jangan memecahkan vesikel
  • Mencegah kontak dengan cairan mulut dan pernafasan antara penderita dengan anggota keluarga lainnya
  • Meningkatkan kekebalan tubuh dengan sebisa mungkin makan makanan bergizi, sayur sayuran berkuah, jus buah segera setalah rasa nyeri dimulut berkurang
  • Mencegah dehidrasi dengan memasukkan cairan untuk mengurangi rasa sakit sebisa mungkin cairan yang isotonis dan isohidris


Friday, 30 March 2018

Prosedur Penyusunan Layanan Klinis, SOP penyusunan SOP Layanan Klinis


PROSEDUR PENYUSUNAN LAYANAN KLINIS

Prosedur penyusunan layanan klinis adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) yang digunakan dalam menyusun SOP layanan klnis yang ada di dalam unit layanan klinis yang terdapat di puskesmas atau bisa disebutkan dengan SOP penyusunan SOP (Layanan klinis).
Contoh SOP layanan klinis di unit layanan puskesmas antara lain: SOP injeksi intramuskular, SOP mandibular anastesi, SOP pengukuran tekanan darah, SOP insisi abses dsb.

Contoh Prosedur Penyusunan Layanan Klinis










Thursday, 8 March 2018

Area prioritas unit layanan puskesmas, 3H + 1P (High Risk, High volume, High Cost, Problem Priority), FMEA

Penentuan Area Prioritas Dalam Fasilitas Kesehatan (Puskesmas)

Penentuan area prioritas (upaya perbaikan mutu layanan klinis yang perlu diprioritaskan) diperlukan karena adanya keterbatasan sumber daya yang ada di puskesmas. Oleh karena itu tenaga dengan pengelolah puskesmas menetapkan prioritas fungsi dan proses pelayanan yang perlu disempurnakan.

Penetapan prioritas dilakukan dengan kriteria misalnya (3H + 1P): high risk, high volume, high cost dan kecenderungan terjadi masalah/problem, atau didasarkan atas penyakit, kelompok sasaran, program prioritas.

Cara menentukan area prioritas di Puskesmas : 
  • Melakukan pertemuan yang melibatkan petugas pemberi layanan klinis
  • Menyusun semua unit pelayanan yang terdapat di puskesmas
  • Melakukan identifikasi fungsi dan proses pelayanan yang diprioritas untuk diperbaiki dengan kriteria yang ditetapkan menggunakan kriteria 3H + 1P (high risk, high volume, high cost & prioritas masalah/problem)
  • Memberi skor 1-10 untuk setiap unit layanan berdasarkan kriteria yang ditetapkan dengan (skor paling tinggi diberikan kepada unit layanan yang memiliki kecenderungan tertinggi terhadap kriteria yang ditetapkan)
  • Misalnya untuk unit pelayanan yang memiliki kriteria high risk (resiko tinggi). Laboratorium termasuk unit layanan dengan tingkat resiko yang tertinggi (penyebaran infeksi yang cukup tinggi, sample yang tertukar dll) maka dalam penentuan kriteria high risk (resiko tinggi) laboratorium memiliki skor tertinggi yaitu 10, baru kemudian unit layanan lain mengikuti dengan skor dibawah 10
  • Setelah semua unit layanan diberi skor sesuai dengan kriteria yang ditetapkan 3H + 1 P, dihitung nilai akumulasi dari stiap unit layanan tersebut
  • Unit layanan yang memiliki skor/nilai akumulatif paling tinggi dipilih & ditetapkan sebagai area prioritas (unit layanan yang perlu diperbaiki lebih dahulu), salah satunya dilakukan FMEA untuk SOP unit layanan tersebut.
Berikut contoh penetapan area prioritas di puskesmas


Jadi berdasarkan tabel pemilihan dan penentuan area prioritas diatas didapatkan 3 area prioritas yang perlu diperbaiki lebih dahulu yaitu : Laboratorium, Ruang farmasi serta Ruang pendaftaran/Rekam medis.




Thursday, 1 March 2018

Karies Gigi (Gigi berlubang) : Penyebab dan Pencegahan


KARIES GIGI ATAU GIGI BERLUBANG

Karies gigi atau yang sering kita dengar dengan gigi berlubang adalah salah satu dari masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak dijumpai tidak hanya pada kelompok usia anak-anak tetapi juga pada orang dewasa. 
Gigi yang berlubang bisa menimbulkan ngilu bahkan nyeri yang dapat mengganggu aktifitas kita sehari-hari. Proses gigi berlubang akan terus berlanjut jika tidak mendapat penanganan yang baik bahkan bisa menyebabkan infeksi serius dan yang terparah bisa menyebabkan kematian. 

Karies Gigi 
Karies gigi yaitu kerusakan pada jaringan keras gigi yang dimulai dengan proses demineralisasi atau pelarutan pada lapisan terluar gigi atau lapisan email dan jika proses ini terus berlanjut tanpa ada pencegahan atau perawatan yang cukup dapat mengakibatkan gigi menjadi berlubang. Awal proses karies gigi biasa ditandai dengan white spot atau tanda putih seperti kapur pada permukaan gigi.



Bagaimana Gigi Bisa Berlubang
Didalam rongga mulut kita terdapat flora normal, yang disebut sebagai flora normal rongga mulut yaitu kumpulan bakteri atau mikroorganisme yang terdapat di rongga mulut manusia, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. 
Keberadaan bakteri – bakteri ini memiliki tugas sebagai pertahanan tubuh karena bisa menghasilkan suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme lain yang masuk ke rongga mulut. Bagai pedang bermata dua, bakteri – bakteri normal dalam rongga mulut ini selain memiliki peran pertahanan tubuh juga dapat merugikan dan menimbulkan penyakit untuk tubuh. Bakteri – bakteri tersebut bisa berubah menjadi penyakit dan merugikan tubuh karena adanya faktor pencetus yaitu kebersihan gigi dan mulut.
Seperti diketahui bersama bahwa rongga mulut merupakan jalan pertama dari proses pencernaan makanan, dimana makanan masuk dan mengalami proses pengunyahan sebelum masuk ke organ pencernaan selanjutnya yaitu lambung melalui kerongkongan. Sisa makanan didalam rongga mulut ini jika tidak dibersihkan akan diuraikan oleh bakteri – bakteri tersebut, dan dari proses penguraian tersebut akan menghasilkan asam. Asam yang terbentuk menempel pada lapisan terluar gigi atau email yang perlahan tapi pasti akan melarutkan lapisan gigi sehingga bisa menyebabkan gigi berlubang. 

Kenapa Gigi berlubang Bisa Menyebabkan rasa nyeri
Saat gigi sudah berlubang lapisan pelindung terluar dan terkeras gigi (email) sudah terkikis atau bahkan hilang, hilang lapisan email ini menyebabkan lapisan dentin (lapisan dalam gigi setelah email) mudah terpapar minuman / makanan panas atau dingin, udara dingin, makanan manis dan asam. Struktur lapisan dentin tidak sekeras lapisan email, pada lapisan dentin memiliki tubuli atau rongga - rongga yang bisa menghantarkan rasa yang diterimanya ke jaringan saraf. Itulah mengapa saat gigi berlubang, biasanya gigi menjadi lebih sensitif  terhadap rasa yang diterimanya terutama dingin dan manis.
Lubang pada gigi ini jika tidak segera mendapat perawatan yang cukup, proses gigi berlubang akan terus berlanjut dan akan merusak lapisan dentin, jika lapisan dentin sudah rusak maka jika ada rangsangan yang diterima akan langsung menyerang saraf gigi pada fase ini akan timbul rasa sakit yang cekot – cekot. Bahkan saat gigi tidak dalam kondisi terkena rangsangan seperti tidak saat digunakan untuk makan atau minum rasa sakit bisa muncul secara tiba – tiba (keluhan sakit spontan).

Cara Mencegah Gigi Berlubang 
Mencegah lebih baik daripada mengobati, terutama untuk gigi karena gigi merupakan jaringan tubuh yang tidak bisa melakukan regenerasi atau memperbaiki diri. Sekali gigi tersebut berlubang tidak akan bisa kembali utuh kecuali jika gigi yang berlubang tersebut dirawat dan di tambal. Gigi merupakan investasi karena sekali gigi permanen sudah tumbuh tidak akan tumbuh lagi untuk kedua kali nya. Maka dari itu pentingnya merawat gigi agar tidak belubang dengan cara yaitu :
1. Menyikat gigi secara teratur paling sedikit 2x sehari yaitu pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur
2. Mengurangi makanan yang mengandung gula dan lengket seperti coklat, permen, kue dsb.
3. Berkumur dengan air putih setelah selesai makan terutama makan yang manis-manis.
4. Memperbanyak makanan sayur dan buah karena serat bagus untuk membersihkan gigi dari sisa makanan yang menempel
5. Tidak membiasakan mengunyah makanan hanya pada 1 sisi saja (rongga mulut), karena pada sisi yang tidak pernah digunakan untuk mengunyah makanan akan cenderung mudah terbentuk karang gigi.
6. Kontrol rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.  



Wednesday, 28 February 2018

Register Risiko Pelayanan Puskesmas: Panduan Lengkap dan Contoh Tabel

Apa Itu Register  Risiko Pelayana Puskesmas

·       Register risiko di Puskesmas berperan penting dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Dengan mencatat, menganalisis, dan menindaklanjuti risiko secara sistematis, Puskesmas dapat meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan, mengurangi kesalahan, dan membangun budaya keselamatan di lingkungan kerja. Implementasi resgister risiko yang baik juga membantu Puskesmas memenuhi standar akreditasi dan memastikan pelayanan yang lebih aman bagi Masyarakat.

·       Definisi Register Risiko

Register risiko adalah dokumen atau sistem pencatatan yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola berbagai risiko yang dapat mempengaruhi pelayanan di Puskesmas. Register risiko ini mencatat jenis risiko, tingkat keparahan, kemungkinan terjadinya, serta strategi mitigasi yang telah atau akan dilakukan.

·       Fungsi Register Risiko dalam Pelayanan Kesehatan

1.      Mengidentifikasi risiko secara sistematis

2.      Menilai dan mengklasifikasikan tingkat risiko

3.      Mendukung perencanaan strategi mitigasi

4.      Memfasilitasi monitoring dan evaluasi risiko

5.      Meningkatkan kepatuhan terhadap standar dan regulasi

6.      Mengurangi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dan meningkatkan keselamatan pasien

7.      Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas

8.      Mendorong budaya keselamatan di fasilitas kesehatan

·       Penilaian Risiko

Menilai dan memprioritaskan risiko sehingga tingkat risiko dapat dikelola dalam batas toleransi yang ditentukan. Penilaian risiko dilakukan melalui 2 tahapan yaitu:

1.      Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko terdiri dari 2 yaitu:

a.      Risiko klinis: keselamatan pasien

b.      Risiko non klinis: diluar keselamatan pasien, seperti risiko keuangan, risiko reputasional, risiko strategi, MFK, PPI yang tidak berdampak pada pasien (pengendalian lingkungan dan pengelolaan limbah).

-          Langkah-langkah pelaksanaan identifikasi risiko:

1.      Memahami dan mengidentifikasi kegiatan utama unit/bagian

2.      Mengidentifikasi tujuan dari masing-masing kegiatan tersebut

3.      Mengumpulkan data dan informasi tentang risiko yang mungkin terjadi atas kegiatan tersebut

4.      Mencari penyebab dari risiko-risiko yang telah diidentifikasi untuk mendapatkan penyebab utamanya

5.      Mengisi formular daftar risiko dan memperbarui setiap saat terjadi pernyataan risiko

 

-          Kategori Risiko:

1.      Risiko keuangan

Risiko yang disebabkan oleh segala sesuatu yang menimbulkan tekanan terhadap pendapatan dan belanja Puskesmas Misalnya: Risiko  kenaikan biaya pengadaanreagen dan BHP

2.      Risiko strategis

Risiko yang disebabkan oleh adanya penetapan kebijakan organisasi baik internal maupun eksternal yang berdampak langsung kepada puskesmas Misalnya: Pelayanan puskesmas tepat waktu

3.      Risiko operasional

Risiko yang disebabkan oleh :

▪   Ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia  dan kegagalan sistemdi Puskesmas

 ▪   Adanya keadaan eksternal yang mempengaruhi operasional Puskesmas Misalnya:       Kondisi darurat/ bencana

4.      Risiko kepatuhan

Risiko yang disebabkan oleh organisasi atau pihak eksternal yang tidak mematuhi dan/ atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undang dan ketentuan lain yang berlaku

Misalnya: Puskesmas tidak patuh terhadap regulasi eksternal

5.      Risiko reputasional

Risiko yang disebabkan oleh menurunnya kepercayaan publik/masyarakat yang bersumber dari persepsi negatif tentang Puskesmas.

Misalnya: Kesalahpahaman antara pelanggan dan Puskesmas sehingga menyebabkan citra Puskesmas menjadi kurang baik 

 

2.      Analisis Risiko

Proses analisis risiko pada potensial risiko dengan mempertimbangan frekuensi dan dampak risiko.

Analisis risiko menggunakan:

a.      Risiko klinis à Matriks grading risiko

b.      Risiko non klinis à Kriteria risiko

 

-          Urutan pelaksanaan analisis risiko

1.         Dapatkan data hasil identifikasi risiko

2.         Evaluasi atas kecukupan pengendalian intern current control (yang sudah ada)

3.         Ukur tingkat probabilitas terjadinya risiko

4.         Ukur tingkat besaran dampak jika risiko terjadi

5.         Hitung skor risiko dengan mengalikan probabilitas dampak

6.         Tentukan tingkat risiko, apakah termasuk risiko tingkat sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi

7.         Isikan hasil langkah-langkah diatas kedalam analisis risiko

8.         Dari hasil risiko diatas, selanjutnya dibuat peta risiko

Contoh Register Risiko Pelayanan Klinis (UKP) & Sarana Prasarana











Wednesday, 31 January 2018

herpes labialis, HSV, herpes simpleks, komplikasi, diagnosa banding



HERPES LABIALIS


Herpes labialis yang terjadi pada bibir disebabkan oleh virus herpes simpleks atau herpes simpleks virus type 1 (HSV-1) selain herpes labialis, HSV - 1 yang terjadi di oral atau rongga mulut juga bisa menyebabkan stomatitis herpetiformis akut, faringotonsilitis herpetik akut.

C:\Users\Diah\Downloads\herpes labialis.jpg

Umumnya herpes simpleks virus type 1 (HSV-1) dikaitkan dengan penyakit orofasial, sedangkan infeksi herpes simpleks virus type 2 (HSV-2) menyebabkan herpes genitalia atau herpes yang menyerang daerah kelamin.

Berbagai stimulus/rangsangan yang dapat memicu reaktivasi (kemampuan HSV laten untuk aktif kembali) antara lain : demam, trauma, stress, emosional, sinar matahari dan menstruasi/hormonal.
Reaktivasi akan lebih sering dan lebih berat pada pasien dengan imunokompromais dibandingkan pasien imunokompeten.

Cara Penularan
HSV ditularkan melalui kontak personal erat. Infeksi terjadi melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya orofaring, serviks, konjungtiva) atau melalui pori - pori kulit. HSV - 1 ditularkan melalui kontak dengan saliva atau air ludah yang terinfeksi.

Klinis
Manifestasi klinis HSV tergantung usia, status imun (kekebalan) pasien, lokasi anatomi yang terlibat serta jenis antigen virus. Dari penjelasan klinisnya, infeksi HSV dapat dibagi menjadi infeksi primer dan rekuren  Infeksi primer umumnya disertai dengan tanda sistemik, gejala lebih berat dan tingkat komplikasi lebih tinggi. Episode rekuren biasanya lebih ringan dan lebih singkat.

Diagnosa Banding
Diagnosa banding infeksi HSV adalah ulkus mole (chancroid), penyakit tangan, kaki dan mulut (flu singapura). herpes zoster dan sifilis.

Komplikasi 
Berbagai komplikasi pada infeksi HSV, yakni :
  1. Superinfeksi bakteri dan jamur
  2. Balantis; terjadi akibat infeksi pada ulkus herpetic
  3. Kandidiasis vagina; ditemukan pada 10% wanita dengan herpes genetalis primer, terutama pada pasien diabetes mellitus. Herpes ulseratif dengan lesi keputihan pada mukosa sulit dibedakan dari infeksi jamur.
  4. Infeksi mata, sering terjadi pada anak disebabkan oleh HSV - 1 kecuali pada neonates (bisa disebabkan oleh HSV - 2), bermanifestasi sebagai konjuntivitis folikuler unilateral atau keratokonjungtivitis herpetic akut dengan ulkus kornea dendritic
  5. Infeksi kulit, dapat berupa : eksim herpetikum, herpes whitlow, herpes gladiatorum
  6. Infeksi visceral
  7. Infeksi sistem saraf pusat, dapat berupa : meningitis aseptic, ganglionitis dan meilitis, ensefalitis
  8. Herpes genetalis dan kehamilan
  9. Penyakit HSV neonatal
  10. Koinfeksi dengan HIV



Monday, 4 December 2017

Pengertian Akreditasi Dan Manual Mutu atau Pedoman Mutu Puskesmas


Akreditasi puskesmas adalah pengakuan yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggaran akreditasi yang ditetapkan oleh menteri setelah memenuhi standar akreditasi.
Surveyor akreditasi puskesmas terdiri dari surveyor dibidang administrasi dan manejemen, bidang upaya kesehatan masyarakat dan bidang upaya kesehatan perseorangan
Penetapan status akreditasi puskesmas terdiri atas :
  • Tidak terakreditasi
  • Terakreditasi dasar
  • Terakreditasi madya
  • Terakreditasi utama
  • Terakreditasi paripurna
Mekanisme akreditasi dibutuhkan untuk menjamin bahwa perbaikan mutu peningkatan kinerja dan penerapan manajemen resiko dilakukan secara berkesinambungan di puskesmas. Penilaian akreditasi sendiri dilakukan oleh pihak eksternal dengan menggunakan standar yang telah di tetapkan.
Tujuan utama akreditasi puskesmas adalah untuk pembinaan peningkatan mutu, kinerja melalui perbaikan yang berkesinambungan terhadap sistem manajemen, manajemen mutu dan sistem penyelenggaran pelayanan dan program, serta penerapan manajemen resiko dan bukan sekedar penilaian untuk mendapatkan sertifikat akreditasi
Akreditasi puskesmas menilai 3 kelompok pelayanan di puskesmas yakni :
Kelompok administrasi manejemen :
Bab 1 : Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP)
Bab 2 : Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP)
Bab 3 : Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP)
Kelompok upaya kesehatan masyarakat :
Bab 4 : Upaya kesehatan masyarakat yang Berorientasi Sasaran (UKMBS)
Bab 5 : Kepemimpinan dan Manejemen Upaya Kesehatan Masyarakat (KMUKM)
Bab 6 : Sasaran Kinerja Upaya Kesehatan Masyarakat
Kelompok upaya kesehatan perorangan :
Bab 7 : Layanan Klinis yang berorientasi pasien (LKBP)
Bab 8 : Manejemen penunjang layanan klinis (MPLK)
Bab 9 : Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)

Prosedur pelaksanaan akreditasi Puskesmas
Manual Mutu
Manual mutu puskesmas adalah dokumen yang memberikan informasi yang konsisten ke dalam maupun ke luar tentang manejemen mutu Puskesmas. Manual mutu disusun, ditetapkan, dan dipelihara oleh organisasi. Manual mutu tersebut meliputi :
Manual mutu adalah suatu pedoman bagi puskesmas ABCD yang menjelaskan dan membimbing puskesmas dalam pelaksanaan sistem manajemen mutu di puskesmas.
Manual mutu adalah suatu dokumen yang digunakan untuk :
  1. Mengkomunikasikan kebijakan dan sasaran mutu kepada seluruh staf puskesmas
  2. Menggambarkan keterikatannya dengan prosedur sistem mutu yang terdokumentasi
  3. Memberikan gambaran bahwa puskesmas memiliki kebijakan dalam mengelola organisasi untuk mencapai target yang telah ditentukan.

Isi /Susunan Manual Mutu :
Kata Pengantar
  1. Pendahuluan
  1. Latar belakang
  1. Profil Organisasi
  2. Kebijakan Mutu
  3. Proses Pelayanan (Proses Bisnis)
  1. Ruang Lingkup
  2. Tujuan
  3. Landasan hokum dan acuan
  4. Istilah dan definisi

  1. Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Penyelenggaraan Pelayanan
  1. Persyaratan umum
  2. Pengendalian dokumen
  3. Pengendalian rekaman

  1. Tanggung Jawab Manajemen
  1. Komitmen manajemen
  2. Fokus pada sasaran/pasien
  3. Kebijakan mutu
  4. Perencanaan sistem manajemen mutu dan pencapaian sasaran kinerja/mutu
  5. Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi
  6. Wakil manajemen mutu/penanggung jawab manajemen mutu
  7. Komunikasi internal

  1. Tinjauan Manajemen :
  1. Umum
  2. Masukan tinjauan manajemen
  3. Luaran tinjauan

  1. Manajemen Sumber Daya
  1. Penyediaan sumber daya
  2. Manajemen sumber daya manusia
  3. Infrastruktur
  4. Lingkungan kerja

  1. Penyelenggaraan Pelayanan :
  1. Upaya Kesehatan Masyarakat Puskesmas :
  1. Perencanaan Upaya Kesehatan Masyarakat, akses dan pengukuran kinerja
  2. Proses yang berhubungan dengan sasaran :
  1. Penetapan persyaratan sasaran
  2. Tinjauan terhadap persyaratan sasaran
  3. Komunikasi dengan sasaran
  1. Pembelian (jika ada)
  2. Penyelenggaraan UKM:
  1. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya
  2. Validasi proses penyelenggaraan upaya
  3. Identifikasi dan mampu telusur
  4. Hak dan kewajiban sasaran
  5. Pemeliharaan barang milik pelanggan (jika ada)
  6. Manajemen resiko dan keselamatan
  1. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan sasaran kinerja UKM :
  1. Umum
  2. Pemantauan dan pengukuran :
  1. Kepuasan pelanggan
  2. Audit internal
  3. Pemantauan dan pengukuran proses
  4. Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
  1. Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
  2. Analisis data
  3. Peningkatan berkelanjutan
  4. Tindakan korektif
  5. Tindakan preventif
  1. Pelayanan klinis (Upaya Kesehatan Perseorangan):
  1. Perencanaan pelayanan klinis
  2. Proses yang berhubungan dengan pelanggan
  3. Pembelian/pengadaan barang terkait dengan pelayanan klinis :
  1. Proses pembelian
  2. Verifikasi barang yang dibeli
  3. Kontrak dengan pihak ketiga
  1. Penyelenggaraan pelayanan klinis:
  1. Pengendalian proses pelayanan klinis
  2. Validasi proses pelayanan
  3. Identifikasi dan ketelusuran
  4. Hak dan kewajiban pasien
  5. Pemeliharaan barang milik pelanggan (specimen, rekam medis, dsb)
  6. Manajemen resiko dan keselamatan pasien
  1. Peningkatan mutu pelayanan klinis dan keselamatan pasien :
  1. Penilaian indikator kinerja klinis
  2. Pengukuran pencapaian sasaran keselamatan pasien
  3. Pelaporan insiden keselamatan pasien
  4. Analisis dan tindak lanjut
  5. Penerapan manajemen resiko
  1. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan:
  1. Umum
  2. Pemantauan dan pengukuran:
  1. Kepuasan pelanggan
  2. Audit internal
  3. Pemantauan dan pengukuran proses kinerja
  4. Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
  1. Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
  2. Analisis data
  3. Peningkatan berkelanjutan
  4. Tindakan korektif
  5. Tindakan preventif

  1. Penutup
Lampiran (jika ada)




INDIKATOR MUTU PUSKESMAS (INM, IMPP, IMPEL)

  ·          Indikator mutu adalah tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan mutu pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kese...