Dokter gigi yang tertarik menulis

Friday, 7 December 2018

Tinjauan Pustaka (1); Pengertian Periodontitis; Etiologi Periodontitis; Peranan Receptor Activator of Nuclear Factor - κβ Ligand (RANKL) & Osteoprotegerin (OPG) Dalam Mekanisme Bone Loss Pada Periodontitis

TINJAUAN PUSTAKA


Pengertian Periodontitis

Penyakit periodontitis merupakan penyakit yang terjadi pada jaringan periodonsium yang meliputi gingiva, ligament periodontal (PDL), sementum, dan tulang alveolar. Secara umum, penyakit periodontal dibagi dalam penyakit gingiva dan penyakit yang melibatkan struktur penyangga gigi. Keradangan merupakan bentuk dari penyakit periodontal yang paling sering terjadi dan secara umum dibedakan atas gingivitis dan periodontitis.2

Periodontitis adalah penyakit imuno-inflamasi yang memicu terhadap kerusakan jaringan periodontal dan berbatasan dengan tulang alveolar yang diinduksi oleh mikroba patogen subgingiva, biofilm yang berisi beberapa periodontal patogen, meliputi P. Gingivalis. P. Gingivalis adalah komponen terbesar pada biofilm didalam keparahan pada penderita penyakit periodontal.8,9 Penyakit periodontal ini sering kali memicu pada resorbsi tulang alveolar yang irreversible dan yang berikutnya bisa terjadi kehilangan gigi.10
Gambar 1: Perbandingan jaringan periodontal sehat dan sakit


Etiologi Periodontitis

Sebagian besar penyakit periodontal inflamatif disebabkan oleh infeksi bakteri. Walaupun faktor - faktor lain dapat mempengaruhi jaringan periodontal, penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme yang berkolonisasi di permukaan gigi (plak bakteri dan produk - produk yang dihasilkan). Beberapa kelainan sistemik dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal, tetapi faktor sistemik saja tanpa adanya plak bakteri tidak dapat menjadi pencetus terjadi periodontitis.11 Faktor pendukung lain terjadinya periodontitis, yaitu karies, perawatan ortodonsia, pemakaian geligi tiruan yang desainnya tidak tepat, merokok, susunan geligi yang tidak teratur dan faktor daya tahan tubuh.12


Gambar 2: Interaksi faktor - faktor etiologi11

Periodontitis merupakan hasil dari pengaruh antara mikroorganisme subgingiva yang spesifik, proses inflamasi dan respon imun.13 Penyakit periodontal dimulai oleh adanya infeksi bakteri campuran yang meliputi beberapa spesies organisme gram negatif di gingiva sekitar gigi dan berikutnya memicu pada kehilangan perlekatan periodontal pada tulang dan rusaknya tulang alveolar. Beberapa patogen diduga berhubungan dengan penyakit periodontal yang didasarkan pada hubungan aktifnya penyakit dan respon imun host terhadap mikroorganisme.14

Dalam rongga mulut yang sehat lebih dari 350 spesies mikroorganisme telah ditemukan. Sehat dan sakit yang disebabkan oleh bakteri dapat secara umum dikelompokkan dalam 2 kategori :

  •  Bakteri yang kurang berbahaya atau cenderung menguntungkan biasa disebut dengan aerobik gram positif.
  • Dalam penyakit periodontitis, keseimbangan bakteri lebih mengarah pada bakteri anaerobik gram negatif. Penyakit inflamasi atau lesi inflamasi tidak akan berkembang tanpa adanya bakteri tersebut.

Mikroorganisme memiliki implikasi paling kuat dalam penyakit periodontal dan bone loss tersebut meliputi actinobacillus actinomycetemcomittans, porphyromonas gingivalis, tannarella forsythensis dan treponema denticola. Mikroorganisme tersebut secara umum memiliki beberapa faktor yang dapat menginduksi respon host sehingga banyak sekali host mengeluarkan mediator inflamasi meliputi IL-1β, IL-6, tumor necrosis factor (TNF) dan interferon (IFN) γ.15 Actinobacillus actinomycetemcomitans merelease beberapa faktor virulensi seperti endotoksin dan leukotoksin sehingga terjadi infeksi yang merupakan respon imun humoral tubuh baik lokal maupun sistemik.13

Thursday, 29 November 2018

Abstract; Peranan Receptor Activator of Nuclear Factor - κβ Ligand (RANKL) & Osteoprotegerin (OPG) Dalam Mekanisme Bone Loss Pada Periodontitis

ABSTRACT

      A recent study demontrated an increase in receptor activator of nuclear factor κβ ligand (RANKL) and significant decrease in osteoprotegerin (OPG) level in the gingival crevicular fluid (GCF) of patient with periodontal disease (periodontitis). The purpose of this study clearly describes role of receptor activator of nuclear factor κβ ligand (RANKL) and osteoprotegerin (OPG) in bone loss mechanism in periodontitis. Interaction receptor activator of nuclear factor κβ ligand (RANKL) to receptor activator of nuclear factor κβ (RANK) produce mature osteoclast werw markedly alveolar bone loss in periodontitis and this process counteracted by osteoprotegerin (OPG) through that activity as decoy receptor with blockade receptor activator of nuclear factor κβ ligand (RANKL) to bind to receptor activator of nuclear factor κβ (RANK).

Key words : RANKL, OPG, Bone loss, Periodontitis

Wednesday, 28 November 2018

Pendahuluan; Peranan Receptor Activator of Nuclear Factor - κβ Ligand (RANKL) & Osteoprotegerin (OPG) Dalam Mekanisme Bone Loss Pada Periodontitis

PENDAHULUAN

Penyakit gigi dan mulut di Indonesia merupakan masalah utama dan diderita oleh 90% penduduk. Di negara berkembang khususnya di Indonesia penyakit gigi dan mulut umumnya masih tinggi dan cenderung meningkat, bila tidak dilakukan perawatan atau diobati, maka akan semakin parah. Penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan di masyarakat adalah penyakit karies dan periodontitis.1

Penyebab utama periodontitis adalah bakteri plak, yang disebut dental plak. Periodontitis dapat menyebabkan hilangnya perlekatan gingiva dengan gigi, hilangnya ligamen periodontal dan terbentuknya poket periodontal. Bakteri subgingival yang berkembang dalam poket periodontal, menyebabkan keradangan yang lebih parah sehingga dapat terjadi hilangnya perlekatan (attachment loss) dan rusaknya tulang alveolar (bone loss). Apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi.2

Pada penderita periodontitis ditemukan kehilangan perlekatan periodontal. Ligamen periodontal mempunyai peranan yang penting dalam menjaga homeostasis jaringan periodontal yaitu dengan mempengaruhi keseimbangan aktivitas pembentukan tulang dan resorbsi tulang.Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara in vivo terhadap hewan percobaan telah menunjukkan bahwa dengan melakukan kultur sel ligamen periodontal memberi kemungkinan dalam mensintesa jaringan periodontal.4 Sitokin - sitokin seperti tumor necrosis factor (TNF) - α, IL-β, IL-6 dan Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand (RANKL) serta faktor anti resorbsi atau ostoprotegerin (OPG) berada dalan sel ligamen periodontal.3

Dalam penelitian baru - baru ini dikemukakan bahwa terdapat rasio konsentrasi Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand (RANKL) terhadap osteoprotegerin (OPG) dalam gingival crevicular fluid (GCF) yang secara signifikan lebih tinggi pada penderita dengan penyakit periodontal dari pada terhadap subyek sehat. Osteoprotegerin (OPG) didalam Gingival crevicular fluid (GCF) pada penderita penyakit periodontal juga menurun sebanding dengan keparahan penyakit periodontal tersebut.5

Efek osteoprotegerin (OPG) secara in vitro berlawanan dengan Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand (RANKL), dalam menghambat diferensiasi, pertahanan, penggabungan sel prekursor osteoklas, menekan aktivasi osteoklas dan menunjang apoptosis osteoklas. Secara in vivo delesi (penghilangan) osteoprotegerin (OPG) yang dilakukan pada tikus menghasilkan keparahan osteoporosis tanpa terjadi defek imun dan secara berlawanan ekspresi berlebihan osteoprotegerin (OPG) dalam transgenic tikus dan treatment osteoprotegerin (OPG) pada mencit normal menyebabkan osteopetrosis.6 Osteopetrosis atau disebut dengan marble bone merupakan kelainan tulang herediter, yaitu tulang yang bertambah padat karena tidak seimbang antara proses pembentukan tulang dengan penghancuran tulang.7

Berdasarkan data diatas penulis ingin mengemukakan peranan Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand (RANKL) dan osteoprotegerin (OPG) dalam mekanisme bone loss pada periodontitis.

Tujuan
Untuk mengetahui peranan Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand (RANKL) dan osteoprotegerin (OPG) dalam mekanisme bone loss pada periodontitis.

Manfaat
1. Didapatkan pengetahuan tentang peranan Receptor activator of nuclear factor - κβ ligand                    (RANKL) dan osteoprotegerin (OPG) dalam mekanisme bone loss pada periodontitis
2. Dapat dijadikan dasar strategi terapi untuk pencegahan bone loss pada periodontitis



Wednesday, 7 November 2018

Panduan Evaluasi Perilaku Petugas Pemberi Layanan Klinis (Self Evaluation & Peer Review)

PANDUAN PELAKSANAAN EVALUASI MANDIRI (SELF
EVALUATION) & PENILAIAN REKAN (PEER REVIEW) TERHADAP
PERILAKU PETUGAS PEMBERI LAYANAN KLINIS PUSKESMAS SIDOARJO

I. DEFINISI
Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan pemilihan, pengumpulan analisis dan penyajian informasi yang sesuai untuk mengetahui sejauh mana suatu tujuan program, prosedur produk atau strategi yang dijalankan telah tercapai sehingga bermanfaat bagi pengambilan keputusan serta dapat menentukan beberapa alternative keputusan untuk program selanjutnya. Evaluasi adalah untuk membangun dan afirmatif, bukan untuk menghakimi.

Self evaluation atau evaluasi mandiri merupakan alat belajar mandiri (self-directed device), yang bisa digunakan untuk mengembangkan diri. Karena dengan self evaluation kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga dimungkinkan akan memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan tersebut secara terus-menerus. Self evaluation dapat menumbuhkan sikap mandiri dalam mengevaluasi secara rasional kekurangan diri sendiri sehingga berdampak pada perenungan diri.

Peer review atau peer evaluation merupakan sebuah proses dimana seseorang menilai hasil kerja teman sejawatnya. Peer review dapat digunakan untuk membantu dalam mengembangkan kemampuan bekerja sama, mengkritisi proses dan hasil belajar orang lain dan menerima feedback atau kritik dari orang lain.

Kombinasi penggunaan evaluasi mandiri (self evaluation) dan evaluasi rekan (peer assessment) untuk penilaian formatif akan lebih meningkatkan efektifitas penilaian. Evaluasi mandiri dan evaluasi rekan (peer review) perilaku pemberi layanan klinis merupakan bentuk evaluasi atau penilaian terhadap perilaku pemberi layanan klinis.

Mutu layanan klinis tidak hanya ditentukan oleh sistem pelayanan yang ada, tetapi juga perilaku petugas dalam pemberian pelayanan klinis. Tenaga klinis perlu melakukan evaluasi terhadap perilaku dalam pemberian pelayanan dan melakukan upaya perbaikan baik pada sistem pelayanan maupun perilaku pelayanan yang mencerminkan budaya keselamatan dan budaya perbaikan pelayanan klinis yang berkelanjutan.

II. RUANG LINGKUP


Dalam penyelenggaraanya upaya puskesmas dan pelayanan klinis memperhatikan mutu layanan klinis untuk kepuasan pelanggan. Mutu layanan klinis tidak hanya ditentukan oleh sistem pelayanan yang ada, tetapi juga perilaku petugas dalam pemberian pelayanan klinis. Tenaga klinis perlu melakukan evaluasi terhadap perilaku dalam pemberian pelayanan dan melakukan upaya perbaikan baik pada sistem pelayanan maupun perilaku pelayanan yang mencerminkan budaya keselamatan dan budaya perbaikan pelayanan klinis yang berkelanjutan. Adapun ruang lingkup penilaian atau evaluasi mandiri (self evaluation) dan penilaian rekan (peer review) melibatkan tenaga pemberi layanan klinis di puskesmas Sidoarjo. Penilaian perilaku pemberi layanan klinis berdasarkan dari tata nilai Puskesmas Sidoarjo yaitu “ CERIA” yang meliputi :

Cakap     : memiliki kompetensi dan kemampuan yang terlatih dalam memberikan pelayanan                                kesehatan sesuai SOP yang ditetapkan dapat diukur dan dipertanggung jawabkan.
Empati    : tanggap dalam melayani seluruh masyarakat dan rekan sekerja
Ramah    : komunikatif dalam melayani masyarakat maupun dengan rekan sekerja.
Ikhlas     : memiliki budaya mutu (terlatih, tanggap dan komunikatif) dalam melayani masyarakat                         maupun dengan rekan sekerja.
Aman     : memberikan pelayanan kesehatan yang memperhatikan keselamatan pasien.

III. TATA LAKSANA


Cara melakukan penilaian perilaku pemberi layanan klinis dilakukan dengan mengukur indikator-indikator yang dapat dinilai dan diamati. Indikator yang digunakan sebagai penilaian perilaku  memberi layanan klinis yaitu :

  • Cakap atau terampil menggunakan indikator kepatuhan terhadap SOP pelayanan klinis yang telah     disusun dan ditetapkan di Puskesmas Sidoarjo. Penilaian dengan menggunakan daftar tilik SOP           layanan klinis. Indikator yang digunakan untuk memonitoring kecakapan petugas yaitu melalui           kepatuhan petugas dalam menggunakan masker (APD) dan kepatuhan petugas dalam melakukan         DTT dan sterilisasi
  • Empati atau tanggap menggunakan respon time/waktu tanggap pelayanan di masing - masing unit      pelayanan di Puskesmas Sidoarjo.
  • Ramah atau komunikatif menggunakan indikator kepatuhan petugas dalam pengisian informed  consent. Indikator yang digunakan untuk memonitoring keramahan petugas dalam memberikan layanan  klinis yaitu kepatuhan petugas dalam pemberian KIE etika batuk
  • Ikhlas atau budaya mutu menggunakan gabungan hasil penilaian dari Cakap, Empati dan Ramah
  • Aman atau keselamatan pasien menggunakan indikator dari 6 sasaran keselamatan pasien yang di monitoring di Puskesmas Sidoarjo.

Penilaian/monitoring dari indikator – indikator tersebut dilakukan setiap hari di unit layanan yang ada di Puskesmas Sidoarjo. Dimana penilaian ini bisa dilakukan dengan menilai rekannya sendiri (peer review) jika yang bertugas di unit layanan tersebut lebih dari 1 orang petugas tetapi jika di unit layanan itu hanya ada 1 petugas maka petugas tersebut menilai diri sendiri (self evaluation). Pendokumentasian/hasil monitoring ini dikumpulkan setiap bulan ke tim mutu Puskesmas Sidoarjo untuk kemudian oleh tim mutu diolah dan disajikan dalam bentuk penilaian perilaku pemberi layanan klinis Puskesmas Sidoarjo.

IV. DOKUMENTASI

Sunday, 6 May 2018

FMEA UNIT LAYANAN PENDAFTARAN DI PUSKESMAS (CONTOH KASUS)




FMEA UNIT LAYANAN PENDAFTARAN DI PUSKESMAS (CONTOH KASUS)

 Gambar Alur Proses Yang Akan di Analisis:






I.                    Identifikasi Failure Modes :
No
Tahapan Kegiatan Pada Alur Proses
Failure Modes
1.
Pra Pendaftaran :
1.   Pasien mengambil nomer antrian


2.   Petugas memanggil pasien sesuai dengan nomer urut antrian


1.     Mengambil nomer antrian lalu pulang
2.     Salah mengambil jenis nomer antrian (nomer antrian sesuai usia/pelayanan yang dituju)
3.     Pasien tidak ada saat dipanggil
2.
Pendaftaran :
3.   Petugas melakukan identifikasi pasien
4.   Petugas menanyakan & meminta identitas pasien

4.     Salah identifikasi pasien yang akan berobat
5.     Pasien tidak membawa KTP/kartu berobat (pasien lama)
6.     Pasien tidak membawa kartu BPJS untuk pasien baru
3.
Paska Pendaftaran :
5.   Petugas memberi stempel ruang/unit layanan yang dituju


7.     Salah stempel ruang

II.             Tujuan melakukan analisis FMEA:
1.      Meminimalkan resiko dari pelayanan loket pendaftaran di Puskesmas
2.      Mengetahui penyebab terjadinya insiden yang kemungkinan bisa terjadi
3.      Merumuskan kemungkinan – kemungkinan yang bisa menjadi penyebab terjadinya insiden





Berdasarkan perhitungan RPN dan perhitungan dalam menentukan cut off point, didapatkan 4 modus kegagalan yang harus ditindak lanjuti dengan solusi yaitu :

1.     Pasien mengambil nomer antrian lalu pulang
2.     Salah stempel tanggal pada lembar status (pelayanan yang di tuju) di rekam medik pasien
3.     Pasien salah mengambil jenis nomer antrian (nomer antrian sesuai usia/pelayanan yang dituju)
4.     Pasien tidak ada saat nomer antrian nya dipanggil

V.             PELAKSANAAN
-          Dilakukan perbaikan SOP alur pelayanan pendaftaran
-          Dilakukan sosialisasi SOP alur pelayanan pendaftaran yang baru
-          Dibuat keterangan tentang jenis antrian di sebelah nomer antrian


GAMBAR ALUR (SOP) PENDAFTARAN YANG TELAH DILAKUKAN FMEA



Pada artikel sebelumnya telah dibahas bagaimana Prosedur Melakukan FMEA





Monday, 23 April 2018

Sariawan : penyebab dan penanganan

SARIAWAN, APTHOUS ULCER, APTHOUS STOMATITIS

Sariawan sering disebut dengan aphtous ulcer, aphtous stomatitis, cancre sores atau mouth ulcer. Tanda khas sariwan berbentuk cekung, sariawan, tidak memiliki penampakan bintil - bintil, berbentuk bulat atau oval, pinggiran sariawan harus berwarna merah (ciri adanya keradangan), warna dasar luka harus putih kekuningan. Berdasarkan ukurannya sariawan atau ulser (luka) dapat dibagi menjadi 3 yaitu minor, mayor dan herpetiformis 

  • Minor  yaitu ulser (luka) kecil ukuran < 4 mm sering terdapat pada mukosa bergerak, sembuh dalam waktu 14 hari dan tidak menimbulkan jaringan parut.
  • Mayor yaitu ulser (luka) besar mungkin > 1 cm terjadi pada daerah manapun termasuk dorsum lidah dan palatum keras, sembuh dalam 1-3 minggu dengan membentuk jaringan parut.
  • Herpetiformis yaitu beberapa ulser (luka) kecil yang bergabung membentuk ulser - ulser yang tidak teratur.


Sariawan umumnya dapat pulih sendiri (self limited disease) dalam waktu 1 - 2 minggu. Sariawan tidak lagi wajar apabila tidak berangsur pulih setelah 4 minggu. Tetapi kalau ada iritasi disekitar sariawan yang diketahui misalnya karena gingsul, tergigit dan pemakaian kawat gigi maka sariawan atau ulser lebih dari 4 minggu masih wajar.

Sariawan baru patut dicurigai ketika terjadi terus - menerus tetapi tidak diketahui faktor penyebabnya, apalagi jika diikuti dengan pinggiran sariawan yang mengeras. Selain itu sariawan atau ulser yang disertai demam atau gangguan pada kulit perlu diwaspadai sebagai tanda penyakit kanker mulut dan herpes.

Penegakan diagnosis sariawan dapat ditetapkan berdasarkan pemeriksaan fisik pasien terutama pemeriksaan ukuran sariawan dan peninjauan kesehatan pasien.

Etiologi
Penyebab sariawan tidak jelas diketahui diduga karena adanya perubahan sistem immun (kekebalan) yang mudah dilihat tetapi tidak terbukti adanya penyait autoimmun atau reaksi immunologi klasik.
Sariawan dapat terjadi karena berbagai faktor predisposisi diantaranya :
  • Kekurangan haematinik (zat besi, folat atau vitamin B12)
  • Penyakit Crohn, penyakit celiac, arthritis reaktif, sistem imun yang lemah (HIV, prnyakit lupus), penyakit bechcet dan infeksi virus (penyakit kaki, tangan dan mulut)
  • Cedera atau kerusakan pada lapisan dalam mulut. Hal ini dapat terjadi akibat trauma antara lain bibir tergigit secara tidak sengaja, memakai kawat gigi, mengunyah makanan yang keras, trauma akibat menggosok gigi
  • Efek samping obat atau metode pengobatan seperti obat antiinflamasi non steroid (NSAID), kemoterapi dan radioterapi
  • Perubahan hormon biasanya dialami wanita (hubungan dengan tahap luteal menstruasi)
  • Alergi makanan dan juga karena mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu seperti makanan yang pedas  dan kopi
  • Menggunakan pasta gigi yang mengandung natrium lauret sulfat
  • Kondisi psikologi seperti gelisah atau stress
Sariawan umumnya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Penanganan secara mandiri dapat dilakukan untuk mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami seperti :
  • Minum menggunakan sedotan untuk mengurangi rasa sakit
  • menggunakan pasta gigi yang tidak mengandung bahan - bahan yang memicu iritasi seperti sodium laurel sulfat serta menggunakan sikat gigi yang lembut untuk menggosok gigi
  • menghindari semua yang menjadi faktor pencetus yang dapat memperparah sariawan
  • mengkonsumsi makanan yang lembut dan menghindari makanan yang keras, pedas, asam, asin atau minuman panas hingga sariawan sembuh
  • Menggunakan obat aloclair untuk mengurangi rasa sakit akibat sariawan dan mencegah sariawan semakin parah
Jika rasa sakit tidak dapat tertangani dengan penanganan mandiri atau ulser bertambah banyak / besar maka dapat dikonsultasikan ke dokter. Dokter dapat menganjurkan pemberian obat - obatan untuk merawat faktor predisposisi antara lain : larutan kumur klorheksidin 0,2 % atau kortikosteroid topikal (hidrokortison hemisuksinat berbentuk gel 2,5 mg atau triamsinolon asetonide 0,1 % dalam orabase) atau larutan kumur tetrasiklin. Jarang digunakan steroid topikal yang lebih kuat misalnya betametason



Monday, 2 April 2018

Hand, Foot & Mouth Disease (HFMD) / Flu Singapura : Penyebab, Gejala dan Penanganan


PENYAKIT KAKI, TANGAN & MULUT (KTM)
FLU SINGAPURA
HAND, FOOT & MOUTH DISEASE (HFMD)

Penyakit Kaki, Tangan & Mulut (KTM) / Hand, Foot & Mouth Disease (HFMD) adalah suatu demam mirip flu disertai ulkus (luka) di mulut dan papula (bintil atau lentingan) di telapak tangan dan telapak kaki biasanya bersifat swasirna (bisa sembuh sendiri). Penyakit ini terutama menyerang balita dan anak - anak dibawah usia 10 tahun namun juga dilaporkan terjadi pada orang dewasa.

Penyakit ini lebih dikenal dengan nama flu Singapura. Mengapa penyakit ini dinamakan atau disebut flu Singapura karena penyakit ini pernah merebak disana, tepatnya belasan tahun silam atau pada tahun 2000.



Gejala / Tanda Klinis :
  • Demam selama 2 -3 hari
  • Anoreksia (gangguan makan)
  • Malaise (kondisi umum yang lemas, merasa kurang fit)
  • Sakit pada abdomen ( bagian antara dibawah dada hingga bagian atas paha)
  • Ulcer (luka) rongga mulut mirip stomatitis herpetiformis (sariawan) tetapi mengenai mukosa labial ( mukosa bibir bagian dalam rongga mulut) dan bukal (pipi bagian dalam rongga mulut) tidak ada gingivitis (keradangan pada gusi). Dalam beberapa hari ditemukan terutama pada telapak tangan dan kaki
Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) / Penyakit Kaki Tangan dan Mulut (KTM) diawali dengan demam, nyeri tenggorokan / menelan, nafsu makan yang menurun dan nyeri atau tidak enak badan. Setelah demam 1 - 2 hari timbul bintik - bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal dibagian belakang langit - langit mulut) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian 1 - 2 hari timbul juga ruam - ruam dikulit dan bintik - bintik merah di telapak tangan dan kaki. Meskipun pada HFMD terutama melibatkan rongga mulut, telapak tangan dan kaki namun ruam dapat juga timbul di tungkai, lengan, bokong dan kulit sekitar kemaluan. 

Orang dewasa dan orang dengan sistem kekebalan tubuh baik mungkin saja terinfeksi virus HFMD namun tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Kelompok ini bukanlah kelompok penderita namun potensial sebagai pembawa (carrier) virus HFMD dan menyebarkan virus ini.

Pengobatan :
Pada kondisi penderita dengan kekebalan dan kondisi tubuh cukup baik, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus. Peningkatan kekebalan tubuh penderita dilakukan dengan pemberian konsumsi makanan & cairan dalam jumlah banyak dan dengan kualitas gizi yang tinggi serta diberikan tambahan vitamin dan mineral jika diperlukan. Jika didapati terjadinya gejala super infeksi akibat bakteri diperlukan antibiotika.

Keparahan :
Untuk pasien dengan kondisi tubuh yang baik, penyakit ini akan menghilang dengan sendirinya selama 7 - 10 hari sejak gejala timbul. Namun komplikasi yang berbahaya juga dilaporkan meliputi miokarditis, pneumonia, meningitis, ensefalitis hingga kematian. Infeksi pada kehamilan trimester pertama (bulan ke 1-3) dapat menyebabkan keguguran spontan atau pertumbuhan janin yang tidak normal.

Edukasi :
  • Virus masih dapat berada di dalam tinja penderita hingga 1 bulan
  • Isolasi pasien sebenarnya tidak diperlukan, namun perlu istirahat untuk pemulihan dan pencegahan penularan lebih luas
  • Selalu mencuci tangan dengan benar untuk mengurangi resiko penularan
  • Jangan memecahkan vesikel
  • Mencegah kontak dengan cairan mulut dan pernafasan antara penderita dengan anggota keluarga lainnya
  • Meningkatkan kekebalan tubuh dengan sebisa mungkin makan makanan bergizi, sayur sayuran berkuah, jus buah segera setalah rasa nyeri dimulut berkurang
  • Mencegah dehidrasi dengan memasukkan cairan untuk mengurangi rasa sakit sebisa mungkin cairan yang isotonis dan isohidris


Friday, 30 March 2018

Prosedur Penyusunan Layanan Klinis, SOP penyusunan SOP Layanan Klinis


PROSEDUR PENYUSUNAN LAYANAN KLINIS

Prosedur penyusunan layanan klinis adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) yang digunakan dalam menyusun SOP layanan klnis yang ada di dalam unit layanan klinis yang terdapat di puskesmas atau bisa disebutkan dengan SOP penyusunan SOP (Layanan klinis).
Contoh SOP layanan klinis di unit layanan puskesmas antara lain: SOP injeksi intramuskular, SOP mandibular anastesi, SOP pengukuran tekanan darah, SOP insisi abses dsb.

Contoh Prosedur Penyusunan Layanan Klinis










Thursday, 8 March 2018

Area prioritas unit layanan puskesmas, 3H + 1P (High Risk, High volume, High Cost, Problem Priority), FMEA

Penentuan Area Prioritas Dalam Fasilitas Kesehatan (Puskesmas)

Penentuan area prioritas (upaya perbaikan mutu layanan klinis yang perlu diprioritaskan) diperlukan karena adanya keterbatasan sumber daya yang ada di puskesmas. Oleh karena itu tenaga dengan pengelolah puskesmas menetapkan prioritas fungsi dan proses pelayanan yang perlu disempurnakan.

Penetapan prioritas dilakukan dengan kriteria misalnya (3H + 1P): high risk, high volume, high cost dan kecenderungan terjadi masalah/problem, atau didasarkan atas penyakit, kelompok sasaran, program prioritas.

Cara menentukan area prioritas di Puskesmas : 
  • Melakukan pertemuan yang melibatkan petugas pemberi layanan klinis
  • Menyusun semua unit pelayanan yang terdapat di puskesmas
  • Melakukan identifikasi fungsi dan proses pelayanan yang diprioritas untuk diperbaiki dengan kriteria yang ditetapkan menggunakan kriteria 3H + 1P (high risk, high volume, high cost & prioritas masalah/problem)
  • Memberi skor 1-10 untuk setiap unit layanan berdasarkan kriteria yang ditetapkan dengan (skor paling tinggi diberikan kepada unit layanan yang memiliki kecenderungan tertinggi terhadap kriteria yang ditetapkan)
  • Misalnya untuk unit pelayanan yang memiliki kriteria high risk (resiko tinggi). Laboratorium termasuk unit layanan dengan tingkat resiko yang tertinggi (penyebaran infeksi yang cukup tinggi, sample yang tertukar dll) maka dalam penentuan kriteria high risk (resiko tinggi) laboratorium memiliki skor tertinggi yaitu 10, baru kemudian unit layanan lain mengikuti dengan skor dibawah 10
  • Setelah semua unit layanan diberi skor sesuai dengan kriteria yang ditetapkan 3H + 1 P, dihitung nilai akumulasi dari stiap unit layanan tersebut
  • Unit layanan yang memiliki skor/nilai akumulatif paling tinggi dipilih & ditetapkan sebagai area prioritas (unit layanan yang perlu diperbaiki lebih dahulu), salah satunya dilakukan FMEA untuk SOP unit layanan tersebut.
Berikut contoh penetapan area prioritas di puskesmas


Jadi berdasarkan tabel pemilihan dan penentuan area prioritas diatas didapatkan 3 area prioritas yang perlu diperbaiki lebih dahulu yaitu : Laboratorium, Ruang farmasi serta Ruang pendaftaran/Rekam medis.




Thursday, 1 March 2018

Karies Gigi (Gigi berlubang) : Penyebab dan Pencegahan


KARIES GIGI ATAU GIGI BERLUBANG

Karies gigi atau yang sering kita dengar dengan gigi berlubang adalah salah satu dari masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak dijumpai tidak hanya pada kelompok usia anak-anak tetapi juga pada orang dewasa. 
Gigi yang berlubang bisa menimbulkan ngilu bahkan nyeri yang dapat mengganggu aktifitas kita sehari-hari. Proses gigi berlubang akan terus berlanjut jika tidak mendapat penanganan yang baik bahkan bisa menyebabkan infeksi serius dan yang terparah bisa menyebabkan kematian. 

Karies Gigi 
Karies gigi yaitu kerusakan pada jaringan keras gigi yang dimulai dengan proses demineralisasi atau pelarutan pada lapisan terluar gigi atau lapisan email dan jika proses ini terus berlanjut tanpa ada pencegahan atau perawatan yang cukup dapat mengakibatkan gigi menjadi berlubang. Awal proses karies gigi biasa ditandai dengan white spot atau tanda putih seperti kapur pada permukaan gigi.



Bagaimana Gigi Bisa Berlubang
Didalam rongga mulut kita terdapat flora normal, yang disebut sebagai flora normal rongga mulut yaitu kumpulan bakteri atau mikroorganisme yang terdapat di rongga mulut manusia, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. 
Keberadaan bakteri – bakteri ini memiliki tugas sebagai pertahanan tubuh karena bisa menghasilkan suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme lain yang masuk ke rongga mulut. Bagai pedang bermata dua, bakteri – bakteri normal dalam rongga mulut ini selain memiliki peran pertahanan tubuh juga dapat merugikan dan menimbulkan penyakit untuk tubuh. Bakteri – bakteri tersebut bisa berubah menjadi penyakit dan merugikan tubuh karena adanya faktor pencetus yaitu kebersihan gigi dan mulut.
Seperti diketahui bersama bahwa rongga mulut merupakan jalan pertama dari proses pencernaan makanan, dimana makanan masuk dan mengalami proses pengunyahan sebelum masuk ke organ pencernaan selanjutnya yaitu lambung melalui kerongkongan. Sisa makanan didalam rongga mulut ini jika tidak dibersihkan akan diuraikan oleh bakteri – bakteri tersebut, dan dari proses penguraian tersebut akan menghasilkan asam. Asam yang terbentuk menempel pada lapisan terluar gigi atau email yang perlahan tapi pasti akan melarutkan lapisan gigi sehingga bisa menyebabkan gigi berlubang. 

Kenapa Gigi berlubang Bisa Menyebabkan rasa nyeri
Saat gigi sudah berlubang lapisan pelindung terluar dan terkeras gigi (email) sudah terkikis atau bahkan hilang, hilang lapisan email ini menyebabkan lapisan dentin (lapisan dalam gigi setelah email) mudah terpapar minuman / makanan panas atau dingin, udara dingin, makanan manis dan asam. Struktur lapisan dentin tidak sekeras lapisan email, pada lapisan dentin memiliki tubuli atau rongga - rongga yang bisa menghantarkan rasa yang diterimanya ke jaringan saraf. Itulah mengapa saat gigi berlubang, biasanya gigi menjadi lebih sensitif  terhadap rasa yang diterimanya terutama dingin dan manis.
Lubang pada gigi ini jika tidak segera mendapat perawatan yang cukup, proses gigi berlubang akan terus berlanjut dan akan merusak lapisan dentin, jika lapisan dentin sudah rusak maka jika ada rangsangan yang diterima akan langsung menyerang saraf gigi pada fase ini akan timbul rasa sakit yang cekot – cekot. Bahkan saat gigi tidak dalam kondisi terkena rangsangan seperti tidak saat digunakan untuk makan atau minum rasa sakit bisa muncul secara tiba – tiba (keluhan sakit spontan).

Cara Mencegah Gigi Berlubang 
Mencegah lebih baik daripada mengobati, terutama untuk gigi karena gigi merupakan jaringan tubuh yang tidak bisa melakukan regenerasi atau memperbaiki diri. Sekali gigi tersebut berlubang tidak akan bisa kembali utuh kecuali jika gigi yang berlubang tersebut dirawat dan di tambal. Gigi merupakan investasi karena sekali gigi permanen sudah tumbuh tidak akan tumbuh lagi untuk kedua kali nya. Maka dari itu pentingnya merawat gigi agar tidak belubang dengan cara yaitu :
1. Menyikat gigi secara teratur paling sedikit 2x sehari yaitu pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur
2. Mengurangi makanan yang mengandung gula dan lengket seperti coklat, permen, kue dsb.
3. Berkumur dengan air putih setelah selesai makan terutama makan yang manis-manis.
4. Memperbanyak makanan sayur dan buah karena serat bagus untuk membersihkan gigi dari sisa makanan yang menempel
5. Tidak membiasakan mengunyah makanan hanya pada 1 sisi saja (rongga mulut), karena pada sisi yang tidak pernah digunakan untuk mengunyah makanan akan cenderung mudah terbentuk karang gigi.
6. Kontrol rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.  



INDIKATOR MUTU PUSKESMAS (INM, IMPP, IMPEL)

  ·          Indikator mutu adalah tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan mutu pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kese...